Kampung Naga, Kearifan Lokal untuk Pendidikan

Kampung Naga, merupakan sebuah kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung ini menjadi salah satu ikon pariwisata di Tasikmalaya. Banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara berkunjung ke kampung ini. Banyak dari mereka mempelajari kehidupan masyarakat yang menjaga kelestarian alam.

Pada tanggal 18-19 September 2013, saya bersama tim meneliti kampungn Naga. Adapun kajian yang saya lakukan adalah Tata Guna Lahan di kampung Naga. Saat pertama kali sampai di lokasi ini, alangkah damainya perasaan melihat hijaunya sawah dan pepohonan, serta jernihnya sungai. Dan yang membuat saya lebih merasakan kehidupan yang damai adalah dari bentukan rumah tradisional yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di dua dimensi atau mendengarnya dari orang lain.

Kampung Naga dibangun diatas tanah adat yang luasnya kurang lebih 1 ha. Batas tanah adat ini tidak bertambah dan tidak berkurang dari dahulu kala. Sayangnya kami belum bisa mengetahui berapa lama kampung adat ini berdiri karena dokumen-dokumen tentang sejarah adat yang hangus akibat kebakaran yang terjadi pada tahun 1950an.

Kampung adat Naga dibatasi oleh lahan garapan di utara, timur, dan barat, serta di selatan dibatasi oleh sungai dan hutan larang. Masyarakat sangat menjunjung tinggi kearifan lokal dan alam. Alam bagi masyarakat merupakan sumber segalanya, apabila mereka menjaga alam maka kebutuhan masyarakatpun terjaga. Dan tidak hanya kebutuhan mereka yang terpenuhi. tetapi keamanan masyarakat juga terjamin akibat alam yang terjaga. Kampung Naga memiliki tipologi tanah yang berundak, karena terletak di lembah. Tidak pernah terjadi bencana tanah longsor padahal lahan yang berundak, tidak pernah terjadi banjir walaupun kampung terletak dipinggir sungai, dan tidak ada bangunan yang rubuh akibat gempa yang pernah terjadi. Sungguh pelajaran yang perlu digali demi keberlanjutan alam khususnya untuk kawasan perkotaan.

Apabila ada masyarakat yang tidak mampu membangun rumah di tanah adat dikarenakan lahan yang tidak memadai, maka orang tersebut dapat tinggal diluar kampung adat. Karena batas tanah adat yang tidak bisa ditambah maupun dikurangi. Penggunaan lahan adat untuk bangunan rumah tinggal, masjid, bale dan leuit (lumbung padi). Selain itu terdapat kolam ikan, toilet. Masyarakat membagi lahan adat kampung naga menjadi dua kawasan, yaitu kawasan bersih dan kawasah tidak bersih. Kawasan bersih meliputi rumah warga, masjid, dan bagunan lainnya serta ruang terbuka. Sedangkan kawasan tidak bersih meliputi kolam pembuangan yang disetiap kolam terdapat toilet umum warga setempat.

Apapun yang berkaitan dengan pembangunan bangunan harus dengan seizin ketua adat setempat. Di kampung ini masyarakat tidak hidup di alam, tetapi hidup dengan alam. Sehingga proses keberlanjutan alam terjaga. Warga memiliki mata pencarian sebagai petani dengan menggarap lahan di sekitar tanah adat. Kebutuhan air bersih berasal dari mata air pegunungan. Dan ada yang dimaksud hutan larang adalah hutan yang sama sekali tidak boleh dimasuki oleh siapapun bahakan ketua adat sekalipun. Hal ini dilakukan agar alam tetap terjaga, tidak dirusak oleh manusia

.DSC_1239

DSC_1243

DSC_1245

DSC_1251

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s